Suatu malam, saya pernah berbincang dengan seorang driver Gojek. Waktu itu sudah lewat pukul 10 malam, tapi dia masih aktif menarik order.
Saya bertanya sederhana, “Mas, biasanya sampai jam berapa narik?”
Dia jawab, “Tergantung order, Mas. Kalau lagi rame ya lanjut saja… lumayan.”
Kalimat “tergantung order” itu terdengar biasa. Tapi kalau dipikir lebih dalam, itu bukan sekadar jawaban—itu gambaran sistem kerja baru.
Sistem di mana:
- Tidak ada jam kerja tetap
- Tidak ada kepastian penghasilan
- Tapi ada dorongan untuk terus aktif
Dan di situlah gig economy bekerja.
Gig Economy: Solusi atau Pergeseran Sistem Kerja?
Secara sederhana, gig economy adalah sistem kerja berbasis proyek atau permintaan (on-demand), yang difasilitasi oleh platform digital seperti Grab atau Upwork.
Model ini berkembang pesat dalam satu dekade terakhir.
Data global:
- Jumlah pekerja gig secara global diperkirakan mencapai 435 juta orang
- Permintaan terhadap tenaga kerja gig meningkat sekitar 41% sejak 2016
Di Indonesia:
- Sektor gig berkembang pesat sejak hadirnya ojek online sekitar 2015
- Salah satu platform bahkan memiliki lebih dari 3,1 juta mitra driver
- Sekitar 59,2% tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal (2024)
Artinya, ini bukan fenomena kecil. Ini sudah menjadi bagian dari struktur ekonomi modern.
Fleksibilitas dan Akses Kerja
Tidak bisa dipungkiri, gig economy membawa perubahan yang terasa “menyelamatkan” bagi banyak orang.
a. Fleksibilitas Waktu
Tidak ada absensi dan tidak ada atasan langsung.
b. Akses Kerja Lebih Mudah
Tidak harus punya gelar tinggi. Siapa saja bisa mulai.
c. Peluang Penghasilan
Semakin aktif, semakin besar peluang mendapatkan penghasilan.
Bahkan dalam kondisi krisis (seperti pandemi), gig economy justru menjadi “penampung” tenaga kerja baru.
Studi menunjukkan bahwa gig economy bisa menjadi alternatif penting saat lapangan kerja formal terbatas
Realita: Fleksibel, Tapi Tidak Stabil
Namun di balik semua itu, ada sisi yang jarang dibahas secara jujur.
a. Pendapatan Tidak Pasti
Penghasilan sangat tergantung:
- Permintaan pasar
- Algoritma platform
- Kompetisi antar pekerja
Tidak ada gaji tetap. Tidak ada jaminan.
b. Tidak Ada Perlindungan Kerja
Banyak pekerja gig:
- Tidak memiliki jaminan sosial (BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan)
- Tidak memiliki perlindungan kerja formal
- Statusnya hanya dianggap “mitra”, bukan karyawan
Padahal dalam praktiknya, mereka tetap:
- Diatur oleh sistem
- Dinilai oleh rating
- Dipengaruhi oleh kebijakan platform
c. Algoritma Menggantikan Atasan
Ini yang paling menarik.
Kalau dulu:
- Bos memberi tugas
- HR mengatur jadwal
Sekarang:
- Algoritma menentukan siapa dapat order
- Sistem menentukan performa
Bahkan penelitian menunjukkan bahwa sistem platform seringkali tidak transparan dalam menentukan pendapatan pekerja
Artinya:
Anda merasa bebas, tapi sebenarnya sedang dikendalikan oleh sistem yang tidak terlihat.
Ilusi Fleksibilitas: Bebas, Tapi Harus Selalu Siap
Secara teori, pekerja gig bebas menentukan waktu kerja.
Namun dalam praktiknya:
- Harus online di jam sibuk
- Harus cepat merespon
- Harus menjaga rating
Kalau tidak, Order akan menurun Sehingga Akhirnya muncul kondisi yang paradoks:
Tidak ada jam kerja, tapi terasa seperti kerja tanpa henti.
Dampak Sosial Ekonomi: Lebih Dalam dari Sekadar Pekerjaan
Gig economy bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga mengubah struktur sosial.
a. Normalisasi Ketidakpastian
Generasi sekarang mulai menganggap:
- Tidak punya gaji tetap = normal
- Tidak punya jaminan = biasa
b. Kompetisi Tanpa Batas
Semakin banyak orang masuk, semakin ketat persaingan.
Dalam banyak kasus global, gig economy justru:
- Menekan upah
- Memaksa pekerja menerima bayaran lebih rendah karena kompetisi tinggi
c. Ketergantungan pada Platform
Pekerja tidak punya:
- Data pelanggan
- Kontrol harga
- Akses langsung ke pasar
Semua dikendalikan platform.
Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Mari kita lihat secara jujur.
Platform mendapatkan:
- Data pengguna
- Komisi dari setiap transaksi
- Kontrol penuh atas sistem
Pekerja mendapatkan:
- Akses kerja
- Tapi dengan risiko tinggi
Ini bukan berarti gig economy buruk. Namun terlihat jelas bahwa Relasi antara platform dan pekerja tidak sepenuhnya seimbang.
Gig Economy: Solusi Sementara atau Masa Depan?
Gig economy memang:
- Membuka peluang kerja
- Mendorong ekonomi digital
- Membantu banyak orang bertahan
Namun tanpa regulasi dan perlindungan:
- Ketidakpastian bisa menjadi norma baru
- Kesejahteraan jangka panjang terancam
Penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan gig economy di Indonesia belum diimbangi dengan perlindungan tenaga kerja yang memadai
Kita Menggunakan Sistem, atau Digunakan Sistem?
Pertanyaan paling pentingnya bukan Apakah gig economy baik atau buruk, Namun:
- Apakah kita sadar risikonya?
- Apakah kita punya strategi?
- Atau kita hanya ikut arus?
Realita yang Tidak Hitam Putih
Gig economy adalah realita. Ia memberi peluang, tapi juga membawa konsekuensi. Ia menawarkan kebebasan, tapi juga menciptakan ketergantungan. Dan seperti banyak fenomena sosial-ekonomi lainnya:
Yang terlihat di permukaan sering kali bukan gambaran utuhnya.
Gig economy bukan jebakan… tapi bisa menjadi jebakan jika dijalani tanpa kesadaran.